Tuberkulosis, Masalah dan Tantangan Saat Ini
Memperingati Hari Tuberkulosis Dunia
dr. Dewi Behtri Yanifitiri, SpP(K) FISR
Divisi Infeksi RS dr Zainoel Abidin Banda Aceh
Tuberkulosis (TBC) merupakan suatu penyakit menular yang telah menyebabkan penderitaan dan kematian sepanjang sejarah. Sejak ditemukannya penyakit ini tahun 1882 oleh seorang dokter Jerman bernama Robert Koch, diperkirakan telah menyebabkan kematian pada sepertiga penduduk dunia. Menurut Global TBC Report 2021, terdapat sekitar 824.000 kasus TBC di Indonesia, namun baru 393.323 (48%) pasien yang telah diidentifikasi, diobati dan dilaporkan ke sistem informasi TBC nasional (SITB) sekitar 52% kasus tidak diketahui atau tidak terdeteksi dan tidak terlaporkan. Di Aceh sendiri terjadi peningkatan kasus TBC dari tahun 2020 tercatat 6.878 kasus namun pada tahun 2021 meningkat menjadi 7.170 kasus. Sebanyak 4.578 kasus dialami oleh laki-laki dan 2.592 kasus dialami oleh perempuan. Sementara itu, jumlah kematian akibat TBC di Aceh juga mengalami peningkatan menjadi 276 kasus pada tahun 2021, atau 5:100.000 penduduk. Tuberkulosis ini mudah menular terutama pada kelompok rentan seperti balita, orang tua dan pada orang dengan penyakit kronis diabetes mellitus (DM), penyakit human immunodeficiency virus (HIV), gagal ginjal kronis, kanker dan lain lain. Pengobatan TBC menjadi sulit dengan adanya tuberkulosis yang resistan obat (TBC RO) yang harus menjalani pengobatan yang lama dan adanya berbagai kemungkinan efek samping dari obat TBC RO, hal ini menimbulkan kekhawatiran dalam tatalaksana tuberkulosis sekarang ini.
Peran dokter spesialis paru bekerjasama dengan dinas kesehatan dalam penanganan tuberkulosis sudah sangat baik, dimulai dengan melakukan penyuluhan untuk peningkatan kesadaran masyarakat, deteksi dini, pengobatan, pelaporan, dan juga melatih kader di desa. Dalam rangka meningkatkan upaya penanganan TBC, dokter paru dari RS dr Zainoel Abidin berkoordinasi dengan dinas kesehatan melakukan dan memberikan pelatihan ke berbagai rumah sakit terutama rumah sakit daerah hampir di seluruh kabupaten di Aceh untuk meningkatkan penemuan kasus dan pengobatan TBC terutama TBC resisten obat, pelatihan bagi tenaga kesehatan dalam upaya penanganan TBC, melakukan supervisi ke puskesmas untuk penemuan dan pengobatan TBC sensitif obat serta meningkatkan kesadaran bagi pasien dan keluarga untuk pengobatan dan pemcegahan penularan TBC. Kegiatan ini juga di dukung oleh lembaga swadaya masyarakat atau organisasi masyarakat seperti Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI).
Penyakit TBC umumnya menyerang organ paru dan bisa menyerang organ selain paru atau di sebut secara umum sebagai TBC ekstra paru. Organ lain yang bisa terkena TBC misalnya kelenjar limfe, otak, tulang, payudara, ginjal, kulit, ovarium dan lain lain. Ada dua jenis tuberkulosis yaitu TBC sensitif obat (TBC SO) dan TBC resisten obat (TBC RO). TBC sensitif obat bisa diobati dengan menggunakan empat antibiotik standar yang efektif. Pengobatan diberikan minimal dalam waktu 6 bulan dan maksimal 12 bulan untuk kasus TBC ekstra paru. Pengobatan TBC sensitif obat harus dilakukan dengan tekun dan rutin dan penjelasan tentang penyakit dan cara pengobatan serta kemungkinan efek samping kepada pasien dan keluarga menjadi sangat penting dilakukan oleh para tenaga kesehatan, memastikan pasien minum obat setiap hari dengan meminta bantuan keluarga sebagai pengawas minum obat (PMO) bagi pasien tersebut. Pengobatan TBC SO ini sebaiknya di lakukan di fasilitas pelayanan kesehatan yang sudah menerapkan sistem DOTS (direcly observed treatment shortcourse), dimana pasien diawasi langsung untuk pengobatan jangka pendek selama 6-12 bulan dilakukan identifikasi kontak, penemuan kasus, pengobatan dan pencatatan kasus TBC melalui SITB, dengan pengobatan TBC SO yang tepat dan tidak terputus maka diharapkan resiko TBC resisten obat bisa di cegah. Tuberkulosis resisten obat merupakan jenis TBC yang sudah kebal terhadap antibiotik standar yang digunakan pada TBC SO. Bakteri TBC resisten obat ini membutuhkan pengobatan yang lebih lama, obat yang lebih banyak , biaya pengobatan lebih mahal, dan lebih kompleks. Pengobatan membutuhkan waktu minimal 9 bulan dan bisa mencapai 24 bulan pada kasus tertentu. Pengobatan ini lebih sulit oleh karena pemilihan obat harus di sesuaikan dengan kondisi pasien dan kemungkinan munculnya efek samping yang bervariasi kepada pasien, sehingga untuk penyakit TBC RO pengobatan di berikan oleh tim ahli klinis (TAK) yang sudah dilatih, tenaga kesehatan diharuskan menjadi pengawas minum obat dan pasien wajib datang minimal 1 bulan sekali ke RS atau bisa datang kapan saja jika di dapatkan keluhan yang bertambah, maka itu pengobatan pasien dengan TBC RO di sarankan ke fasilitas pelayanan terdekat dengan tempat tinggal pasien, bisa di puskesmas atau RS sub rujukan yang sudah menjalankan program pengobatan TBC RO agar pemantauan dan pengobatan efek samping pada pasien bisa lebih cepat. RS dr Zainoel Abidin sebagai RS rujukan TBC RO di provinsi Aceh sudah melakukan pelatihan dan pendampingan ke RS di kabupaten/ kota sehingga pengobatan dan pemantauan pasien TBC RO bisa di lanjutkan di RS subrujukan daerah masing masing. Pengobatan TBC resisten obat bukan hanya terkait dengan jumlah obat yang banyak, efek samping yang bervariasi, diperlukan juga pemberian nutrisi yang bergizi tinggi kalori tinggi protein dan pendampingan psikologis bagi pasien dan keluarga juga penting karena waktu pengobatan yang sangat lama agar pasien tetap semangat dan tidak ada penolakan oleh keluarga sehingga bisa mendampingi pasien menyelesaikan pengobatan.
Pencegahan TBC sangat penting, terutama dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang TBC dan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Selain itu, upaya pencegahan harus dilakukan di semua tingkat, mulai dari keluarga dan lingkungan sekitar. Program ini mencakup identifikasi kontak erat pasien terutama keluarga, pemberian obat pencegahan bagi anak anak dan keluarga dengan penyakit penyerta kronis, deteksi dini serta penemuan kasus, pengobatan yang tepat dan keteraturan pasien dalam mengonsumsi obat TBC.
Berikut adalah tata cara pencegahan penularan tuberkulosis untuk diri sendiri, keluarga, dan lingkungan secara singkat:
Untuk diri sendiri dan keluarga: Hindari kontak langsung dengan orang yang sedang batuk batuk, memakai masker jika sedang sakit, tutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin dan hindari batuk di ruangan yang ramai. Hindari rokok atau paparan asap yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko terkena TBC. Hindari kebiasaan makan dan minum bersamaan dari gelas dan piring yang sama atau berbagi peralatan mandi seperti handuk.
Jika terdapat anggota keluarga yang menderita TBC maka keluarga bisa menjadi pengawas minum obat (PMO) untuk memastikan orang sakit menjalani pengobatan secara teratur dengan waktu sesuai anjuran dokter. Bagi anak anak, keluarga dengan ko-morbid dan tetangga di sekitar di sarankan melakukan pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan/puskesmas terdekat untuk di lakukan pemeriksaan dan mendapatkan obat pencegahan TBC bagi yang kontak erat dengan pasien TBC. Jika merasa memiliki gejala seperti batuk yang berkepanjangan (lebih 2 minggu), demam hilang timbul, berkeringat di malam hari dan penurunan berat badan, terutama pada orang dengan penyakit penyerta misal DM segera berkonsultasi dengan tenaga medis untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Lingkungan: Usahakan lingkungan tempat tinggal selalu bersih dengan menjaga kebersihan dan lingkungan sekitar rumah. Usahakan rumah terutama kamar tidur dengan ventilasi terbuka sehingga paparan sinar matahari bisa masuk dan sirkulasi udara lancar.
Hindari berada di kerumunan yang terlalu banyak dan selalu jaga jarak dengan orang lain terutama jika sedang dalam kondisi kurang sehat.
Dalam rangka memperingati hari tuberkulosis sedunia tanggal 24 Maret ini, penulis berharap agar kita dapat bersama-sama melakukan upaya preventif dan memperhatikan kelompok rentan, sehingga kita dapat mencapai target eliminasi TBC pada tahun 2030 serta menciptakan dunia yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi semua orang. Untuk memeriahkan hari TBC sedunia, kami mengajak masyarakat untuk hadir di blang padang pada tanggal 19 Maret 2023, kegiatan pemeriksaan kesehatan dan konsultasi dengan spesialis paru gratis, senam pernafasan bersama dan hadiah menarik untuk masyarakat yang hadir.
Temukan dan Obati Sampai Sembuh (TOSS) TBC!!!
*Penulis merupakan ketua tim DOTS dan ketua tim ahli klinis TB RO RS dr Zainoel Abidi
- Log in to post comments