Lompat ke isi utama
x
""

Asma bukan menjadi masalah bagi atlet untuk berprestasi

Aktivitas fisik secara teratur dianjurkan untuk semua individu, tetapi atlet yang mengidap asma akan menghadapi tantangan khusus dalam menangani gangguan mereka saat berlatih olahraga. Pada atlet, diagnosis asma sangat penting karena implikasi pada potensial tidak hanya pada kesehatan umum mereka, tetapi juga pada performa mereka. Asma atau mengi adalah penyakit inflamasi kronis pada saluran pernafasan yang penting dan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di berbagai negara di seluruh dunia. Seseorang yang menderita penyakit asma tidak benar-benar bisa sembuh dari penyakitnya, kalaupun sembuh hanya gejalanya saja yang hilang.

Menurut European Respiratory Society dan European Academy of Allergy and Clinical Immunology, bekerja sama dengan GA2LEN. Mendefinisikan asma yang diinduksi oleh olahraga (EIA) sebagai gejala yang disebabkan oleh olahraga dan tanda-tanda asma yang terjadi setelahnya. Berupa latihan fisik secara intensif. Penurunan fungsi paru-paru (FEV1) yang terjadi setelah olahraga standar disebut bronkokonstriksi yang diinduksi oleh olahraga (EIB).

Untuk itu perlu dilakukan screening bagi atlet muda yang ingin meningkatkan performanya dalam mencapai prestasi. Sering sekali atlet merahasiakan asma nya dari pelatih dan tim medis yang menjadi kendala terbesar dalam menangani asma. Untuk itu, diperlukan Kerjasama antara atlet, pelatih dan dokter dalam menentukan tujuan pengobatan yang tepat dan tindakan pencegahan yang efisien sehingga mereka mampu tampil terbaik.

Berdasarkan Global Initiative for Asthma (GINA) yang merekomendasikan remaja dewasa muda mendapatkan terapi Inhalasi Coticosteroid (ICS) sebagai pengontrol untuk mencegah terjadinya kekambuhan.

Dalam hal ini para atlet dapat melakukan konsultasi ke dokter paru untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai.